Monday, 18 May 2015

Jhon Kwano dan Buah Merah Papua: Makna Ekonomis yang Melecehkan Makna Budaya Papua

Saya Jhon Kwano sebagai anggota dari suku-suku yang memandang Buah Merah (dalam bahasa Lani Tawy) sebagai makanan yang bernilai tinggi secara sosial dan budaya menjadi terganggu sejak buah ini mulai dilihat dengan sebelah mata secara ekonomis.

Sejak diumumkan oleh Pak Made Budi, dosen Universitas Cenderawasih m?enyangkut khasiatnya, maka nilai sosial dan nilai budaya Tawy dalam kehidupan masyarkaat adat Papua secara total berubah. Banyak orang sudah tidak mau menjadikan Tawy sebagai alat perekat hubungan sosial, tetapi justru diperjual-belikan. Banyak aturan panen buah ini yang secara marak dan sengaja dilanggar. Banyak aturan kapan harus ditanam, kapan harus dipetik, siapa yang harus pertama kali memanennya dan sejenisnya menjadi tidak ada arti apa-apa.

Kini Tawy dilihat sebagai "obat mujarab" yang dapat menyembuhkan hampir semua penyakit mematikan yang pernah dihadapi masyarakat modern masakini. HIV/AIDS yang selama ini selalu disebut tidak pernah ada obatnya saja punya peluang disembuhkan oleh Minyak Tawy.

Banyak orang dari Luar Papua tiba-tiba menjadi tabib penyembuh HIV/AIDS, rematik, kencing manis dan kanker. Banyak bermunculan Kapsul Buah Merah yang berisi bubuk ataupun minyak Tawy. Banyak website yang dapat Anda cari di google.com dan akan temukan dengan mudah sekali. Silahkan saja ketik.

Banyak tabib bermunculan. Semuanya dengan izin Badan POM, diterbitkan di Jakarta.


  • Kalau ramai-ramai begini, bagaimana dengan nasib nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial dari Tawy?
  • Bagaimana dengan orang Papua sendiri sebagai pemilik hak intelektual dari buah Tawy?
Saya, Jhon Kwano berharap dan berdoa kepada Tuhan Pencipta Langit dan Bumi Cenderawasih kiranya melindungi bangsa dan budaya Papua sehingga tidak terkikis habis demi kepentingan uang dan ekonomi semata.

Thursday, 12 March 2015

BP2KP Gelar Temu Kawasan Wilayah Adat Lapago

Thursday, 12-03-2015, SuluhPapua

Gunung Susu Jadi Sentral Kawasan Industri

Suasana Temu Kawasan Wilayah Adat Lapago di Hotel Mas Budi Wamena. (Foto : Naftali/SP)Suasana Temu Kawasan Wilayah Adat Lapago di Hotel Mas Budi Wamena. (Foto : Naftali/SP)

Wamena (SP) – Badan Percepatan Pembangunan Kawasan Papua (BP2KP) Provinsi Papua menggelar temu kawasan wilayah adat Lapago di hotel Mas Budi Wamena.

Pertemuan ini digelar Selasa (10/3/2015) untuk mengkoordinasikan dan memfokuskan langkah-langkah kongrit terkait Implementasi Program dan kegiatan untuk percepatan pembangunan di Papua.

Asisten I Setda Provinsi Papua Doren Wakerkwa dalam sambutan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, SIP, MH mengatakan, pertemuan yang dilakukan merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada tahun 2014, dimana pada tahun 2015 ini pertemuan yang sama dilakukan di beberapa Wilayah adat diantaranya, Wilayah adat Mamta, Wilayah adat Saireri, Wilayah Adat Animha, Wilayah adat Mee-Pago dan Wilayah adat Lapago dengan peserta dari Kabupaten Jayawijaya, Tolikara, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Lanny Jaya, Nduga, Puncak, Puncak Jaya, dan Mamberamo Tengah.

Dikatakan, wilayah Papua merupakan wilayah yang sangat luas dan memiliki kandungan potensi alam yang beragan dari setiap daerah, sehingga hal ini merupakan peluang bagi kita dalam mengembangkan hasil-hasil yang belum dikelola dengan baik melalui dan dengan mengutamakan pendekatan berbasis wilayah adat yang berujung kepada menambah pendapatan asli daerah atau pendapatan masyarakat di Papua.

Dijelaskan, untuk mempermudah suplai barang dan menurunkan harga barang di wilayah pegunungan tengah Papua, pemerintah akan mengembangkan pelabuhan Poumako dengan harapan agar dapat menjadi sentral lalu lintas ke daerah selatan dan pegunungan tengah Papua.

Dikatakannya, selain pengembangngan pelabuhan, untuk wilayah Lapago pemerintah telah memilih komoditas kopi sebagai komoditas unggulan serta buah merah, dengan harapan agar kopi menjadi komuditas andalan masyarakat di wilayah Lapago dan menjadikan gunung susu sebagai sentral kawasan industri.

Lebih jauh dikatakan, dalam merencanakan pembangunan kedepan diharuskan untuk memperhatikan keterkaitan atau konektivitas dengan aktifitas ekonomi masyarakat dan dirinya sangat berharap agar segala pembagunan yang dilakukan harus melalui pendekatan berbasis wilayah adat agar dapat tujuan kepada Papua bangkit, mandiri dan sejahtera menjadi terwujud sesuai dengan harapan kita semua.

(B/NAF/R2/LO2)

Saturday, 14 February 2015

265 Hektar Disiapkan untuk Lahan Buah Merah

Saturday, 14-02-2015,  SuluhPapua

Jayapura  (SP) – Tahun lalu pemerintah Provinsi Papua mengembangkan  penanaman buah merah seluas 40 hektar ditambah dengan penyediaan bibit dan bantuan mesin pengolahan buah merah menjadi minyak di lima kabupaten.

“Kegiatan – kegiatan untuk pengembangan buah merah ada di lima kabupaten di tahun 2014 yakni Kabupaten Jayapura, Yahukimo, Tolikara, Kelila – Mamberamo Tengah dan Puncak Jaya,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Provinsi Papua, Semuel Siriwa kepada wartawan diruang kerjanya, Jumat (13/2/2015)

Sementara untuk alat pengolahan minyak buah merah dengan menggunakan mesin, baru terdapat di Kabupaten Jayapura, Kelila – Mamberamo Tengah dan Tolikara. Sebab selama ini di masyarakat masih menggunakan system manual untuk pengolahan minyak buah merah dengan sistem rebus dan peras, sehingga hasil yang diperoleh masih berbau tengik.

“Saat ini pemerintah menginginkan pengolahan buah merah kearah yang lebih higienis. Makanya kita bantu dengan alat mesin,”ucapnya.

Untuk itu tahun ini akan ada penambahan tujuh mesin baru, dengan dua mesin mempunyai kapasitas sama seperti tahun lalu,sedangkan lima mesin baru kapasitasnya sangat besar, seharga  Rp. 300 – 400 juta. Pengembangan

Tahun ini akan dikembangkan tanaman buah merah 265 hektar dan diarahkan untuk 8 kabupaten, seperti Kabupaten Yalimo, Pegunungan Bintang, Nduga, Keerom, Kota Jayapura, sehingga totalnya menjadi 13 kabupaten.

Nantinya akan disesuaikan dengan usulan dari masing – masing kabupaten. Sebab ada yang mendapatkan 5-20 hektar dan ada yang lebih.  “Tadinya perencanaan kita rata-rata mereka ada 20 terakhir 25. Kemudian setelah kita minta calon petani dan lokasinya yang dilakukan akan di cross check ke lapangan. Ternyata angka – angka itu ada yang mengalami perubahan,” terangnya.

Sementara itu untuk pendistribusiannya khususnya dari wilayah Pegunungan akan dilaksanakan holding company bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Provinsi Papua.

Menurut Siriwa, saat ini petani buah merah rutin mengirim minyak buah merah ratusan liter bahkan ribuan liter dari Wamena yang dioleah diolah menjadi produk sabun, juice buah merah dan juga permen. Termasuk produk alat kecantikan yang sudah dibuat oleh Sari Ayu – Martha Tilaar.

“Tahun 2015 ini kami sudah siapkan 400 pohon. Jika dikalikan 265 hektar maka untuk tahun ini 10.6000 anakan buah merah yang akan kita tanam untuk 13 kabupaten, tetapi biasanya kita siapkan lebih,” katanya.

Pihaknya sedang meminta tenaga ahli untuk mengecek penyebaran buah merah dimana saja. Sebab selama ini sering ada penanaman buah merah disana sini. Akan tetapi tidak diketahui luasannya berapa.

” Kalau diketahui luas tegakannya dan banyaknya pohon. Maka baru akan dikonversi. Untuk satu hektar ada 400 pohon,” jelasnya.

Kedepannya untuk pengembangan saat ini sedang berusaha dalam skala pada setiap kawasan dengan harapan setiap kawasan ada 30 hektar.

“Kita mau dorong seperti itu. Saat ini penanamannya terpencar. Kalau dalam satu kawasan akan mudah dalam hal pengumpulan minyak buah merah-nya,” tuturnya.

Sebab saat ini animo masyarakat akan penanaman buah merah sangat besar, termasuk swadaya masyarakat yang melakukan penanaman buah merah sendiri. Namun diakuinya  belum ada laporan detail dari kabupaten/kota tentang petani mana yang sudah melakukannya.

Untuk pembibitannya sendiri, menurut Siriwa juga mencukupi. Karena selama ini Dinas Pertanian dan Holtikultura menerima pasokan dari Kabupaten Jayapura.

(A/GRE/R2/LO1)