Selasa, 07 Juli 2015 | 02:45 Email
Jayapura - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua sedang mengembangkan lahan tanaman buah merah seluas 263 hektare sebagai produk unggulan di wilayahnya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua, Semuel Siriwa, mengatakan, pengembangan tanaman buah merah itu difokuskan pada 13 kabupaten. "Kebutuhan bibit untuk 263 hektare lahan pada 13 kabupaten, sebanyak 1005 benih pohon, pasalnya satu hektar dibutuhkan bibit sebanyak 400 bibit," katanya di Jayapura, Senin (6/7).
Semuel menjelaskan, tahun lalu pihaknya juga telah mengembangkan lahan buah merah seluas 40 hektare, sehingga tahun ini ditambah menjadi 263 hektare.
"Untuk ketersedian bibit buah merah, disiapkan oleh pihak ketiga melalui Unit Layanan Pengadaan (ULP) atau melalui proses lelang," ujarnya.
Dia menuturkan hal ini untuk menjaga ketersediaan kebutuhan bibit bagi petani di lapangan selama program pengembangan buah merah tersebut.
"Sementara untuk pengolahan minyak buah merah, Pemprov Papua tahun ini menyiapkan lima unit mesin pengolahan, namun pengadaan mesin, skop dan cangkul juga melalui proses lelang atau ULP," katanya lagi.
Dia menambahkan dari sektor produksi, diharapkan kerjasama lintas sektor dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
"Sebab, semua sektor produksi membutuhkan kelanjutan seperti Dinas Perindustrian, Dinas Perhubungan dan Perdagangan serta Dinas Koperasi dalam hal promosi," ujarnya lagi.
/FER
Antara
Buah Merah, Tawy, Morita Oil, Buah Pandan Merah, Tawy Papua dari Tanah Papua untuk Kesehatan dan Kesembuhan Umat Manusia di Muka Bumi,persembahan leluhur bangsa Papua buat kemanusiaan sedunia.
Friday, 17 July 2015
Monday, 18 May 2015
Jhon Kwano dan Buah Merah Papua: Makna Ekonomis yang Melecehkan Makna Budaya Papua
Saya Jhon Kwano sebagai anggota dari suku-suku yang memandang Buah Merah (dalam bahasa Lani Tawy) sebagai makanan yang bernilai tinggi secara sosial dan budaya menjadi terganggu sejak buah ini mulai dilihat dengan sebelah mata secara ekonomis.
Sejak diumumkan oleh Pak Made Budi, dosen Universitas Cenderawasih m?enyangkut khasiatnya, maka nilai sosial dan nilai budaya Tawy dalam kehidupan masyarkaat adat Papua secara total berubah. Banyak orang sudah tidak mau menjadikan Tawy sebagai alat perekat hubungan sosial, tetapi justru diperjual-belikan. Banyak aturan panen buah ini yang secara marak dan sengaja dilanggar. Banyak aturan kapan harus ditanam, kapan harus dipetik, siapa yang harus pertama kali memanennya dan sejenisnya menjadi tidak ada arti apa-apa.
Kini Tawy dilihat sebagai "obat mujarab" yang dapat menyembuhkan hampir semua penyakit mematikan yang pernah dihadapi masyarakat modern masakini. HIV/AIDS yang selama ini selalu disebut tidak pernah ada obatnya saja punya peluang disembuhkan oleh Minyak Tawy.
Banyak orang dari Luar Papua tiba-tiba menjadi tabib penyembuh HIV/AIDS, rematik, kencing manis dan kanker. Banyak bermunculan Kapsul Buah Merah yang berisi bubuk ataupun minyak Tawy. Banyak website yang dapat Anda cari di google.com dan akan temukan dengan mudah sekali. Silahkan saja ketik.
Banyak tabib bermunculan. Semuanya dengan izin Badan POM, diterbitkan di Jakarta.
Sejak diumumkan oleh Pak Made Budi, dosen Universitas Cenderawasih m?enyangkut khasiatnya, maka nilai sosial dan nilai budaya Tawy dalam kehidupan masyarkaat adat Papua secara total berubah. Banyak orang sudah tidak mau menjadikan Tawy sebagai alat perekat hubungan sosial, tetapi justru diperjual-belikan. Banyak aturan panen buah ini yang secara marak dan sengaja dilanggar. Banyak aturan kapan harus ditanam, kapan harus dipetik, siapa yang harus pertama kali memanennya dan sejenisnya menjadi tidak ada arti apa-apa.
Kini Tawy dilihat sebagai "obat mujarab" yang dapat menyembuhkan hampir semua penyakit mematikan yang pernah dihadapi masyarakat modern masakini. HIV/AIDS yang selama ini selalu disebut tidak pernah ada obatnya saja punya peluang disembuhkan oleh Minyak Tawy.
Banyak orang dari Luar Papua tiba-tiba menjadi tabib penyembuh HIV/AIDS, rematik, kencing manis dan kanker. Banyak bermunculan Kapsul Buah Merah yang berisi bubuk ataupun minyak Tawy. Banyak website yang dapat Anda cari di google.com dan akan temukan dengan mudah sekali. Silahkan saja ketik.
Banyak tabib bermunculan. Semuanya dengan izin Badan POM, diterbitkan di Jakarta.
- Kalau ramai-ramai begini, bagaimana dengan nasib nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial dari Tawy?
- Bagaimana dengan orang Papua sendiri sebagai pemilik hak intelektual dari buah Tawy?
Saya, Jhon Kwano berharap dan berdoa kepada Tuhan Pencipta Langit dan Bumi Cenderawasih kiranya melindungi bangsa dan budaya Papua sehingga tidak terkikis habis demi kepentingan uang dan ekonomi semata.
Thursday, 12 March 2015
BP2KP Gelar Temu Kawasan Wilayah Adat Lapago
Thursday, 12-03-2015, SuluhPapua
Wamena (SP) – Badan Percepatan Pembangunan Kawasan Papua (BP2KP) Provinsi Papua menggelar temu kawasan wilayah adat Lapago di hotel Mas Budi Wamena.
Pertemuan ini digelar Selasa (10/3/2015) untuk mengkoordinasikan dan memfokuskan langkah-langkah kongrit terkait Implementasi Program dan kegiatan untuk percepatan pembangunan di Papua.
Asisten I Setda Provinsi Papua Doren Wakerkwa dalam sambutan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, SIP, MH mengatakan, pertemuan yang dilakukan merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada tahun 2014, dimana pada tahun 2015 ini pertemuan yang sama dilakukan di beberapa Wilayah adat diantaranya, Wilayah adat Mamta, Wilayah adat Saireri, Wilayah Adat Animha, Wilayah adat Mee-Pago dan Wilayah adat Lapago dengan peserta dari Kabupaten Jayawijaya, Tolikara, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Lanny Jaya, Nduga, Puncak, Puncak Jaya, dan Mamberamo Tengah.
Dikatakan, wilayah Papua merupakan wilayah yang sangat luas dan memiliki kandungan potensi alam yang beragan dari setiap daerah, sehingga hal ini merupakan peluang bagi kita dalam mengembangkan hasil-hasil yang belum dikelola dengan baik melalui dan dengan mengutamakan pendekatan berbasis wilayah adat yang berujung kepada menambah pendapatan asli daerah atau pendapatan masyarakat di Papua.
Dijelaskan, untuk mempermudah suplai barang dan menurunkan harga barang di wilayah pegunungan tengah Papua, pemerintah akan mengembangkan pelabuhan Poumako dengan harapan agar dapat menjadi sentral lalu lintas ke daerah selatan dan pegunungan tengah Papua.
Dikatakannya, selain pengembangngan pelabuhan, untuk wilayah Lapago pemerintah telah memilih komoditas kopi sebagai komoditas unggulan serta buah merah, dengan harapan agar kopi menjadi komuditas andalan masyarakat di wilayah Lapago dan menjadikan gunung susu sebagai sentral kawasan industri.
Lebih jauh dikatakan, dalam merencanakan pembangunan kedepan diharuskan untuk memperhatikan keterkaitan atau konektivitas dengan aktifitas ekonomi masyarakat dan dirinya sangat berharap agar segala pembagunan yang dilakukan harus melalui pendekatan berbasis wilayah adat agar dapat tujuan kepada Papua bangkit, mandiri dan sejahtera menjadi terwujud sesuai dengan harapan kita semua.
(B/NAF/R2/LO2)
Gunung Susu Jadi Sentral Kawasan Industri
Suasana Temu Kawasan Wilayah Adat Lapago di Hotel Mas Budi Wamena. (Foto : Naftali/SP)Suasana Temu Kawasan Wilayah Adat Lapago di Hotel Mas Budi Wamena. (Foto : Naftali/SP)Wamena (SP) – Badan Percepatan Pembangunan Kawasan Papua (BP2KP) Provinsi Papua menggelar temu kawasan wilayah adat Lapago di hotel Mas Budi Wamena.
Pertemuan ini digelar Selasa (10/3/2015) untuk mengkoordinasikan dan memfokuskan langkah-langkah kongrit terkait Implementasi Program dan kegiatan untuk percepatan pembangunan di Papua.
Asisten I Setda Provinsi Papua Doren Wakerkwa dalam sambutan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, SIP, MH mengatakan, pertemuan yang dilakukan merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada tahun 2014, dimana pada tahun 2015 ini pertemuan yang sama dilakukan di beberapa Wilayah adat diantaranya, Wilayah adat Mamta, Wilayah adat Saireri, Wilayah Adat Animha, Wilayah adat Mee-Pago dan Wilayah adat Lapago dengan peserta dari Kabupaten Jayawijaya, Tolikara, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Lanny Jaya, Nduga, Puncak, Puncak Jaya, dan Mamberamo Tengah.
Dikatakan, wilayah Papua merupakan wilayah yang sangat luas dan memiliki kandungan potensi alam yang beragan dari setiap daerah, sehingga hal ini merupakan peluang bagi kita dalam mengembangkan hasil-hasil yang belum dikelola dengan baik melalui dan dengan mengutamakan pendekatan berbasis wilayah adat yang berujung kepada menambah pendapatan asli daerah atau pendapatan masyarakat di Papua.
Dijelaskan, untuk mempermudah suplai barang dan menurunkan harga barang di wilayah pegunungan tengah Papua, pemerintah akan mengembangkan pelabuhan Poumako dengan harapan agar dapat menjadi sentral lalu lintas ke daerah selatan dan pegunungan tengah Papua.
Dikatakannya, selain pengembangngan pelabuhan, untuk wilayah Lapago pemerintah telah memilih komoditas kopi sebagai komoditas unggulan serta buah merah, dengan harapan agar kopi menjadi komuditas andalan masyarakat di wilayah Lapago dan menjadikan gunung susu sebagai sentral kawasan industri.
Lebih jauh dikatakan, dalam merencanakan pembangunan kedepan diharuskan untuk memperhatikan keterkaitan atau konektivitas dengan aktifitas ekonomi masyarakat dan dirinya sangat berharap agar segala pembagunan yang dilakukan harus melalui pendekatan berbasis wilayah adat agar dapat tujuan kepada Papua bangkit, mandiri dan sejahtera menjadi terwujud sesuai dengan harapan kita semua.
(B/NAF/R2/LO2)
Subscribe to:
Posts (Atom)